Stunting adalah masalah kegagalan pertumbuhan akibat nutrisi yang tidak cukup atau kurang pada anak. Periode krusial pemenuhan nutrisi pada anak dimulai dari masa kehamilan sampai anak usia 24 bulan.Setelah anak berusia lebih dari dua tahun, kondisi stunting mulai terlihat. Stunting akan memberikan efek jangka panjang hingga anak dewasa dan lanjut usia.
Tujuan dari kegiatan rembug stunting adalah untuk membangun komitmen bersama antara pemerintah desa, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk mencegah dan menurunkan angka stunting. Hal ini dilakukan melalui identifikasi masalah, perumusan rencana aksi yang terperinci, prioritisasi anggaran, serta peningkatan kesadaran masyarakat tentang stunting dan pencegahannya.
Dampak stunting adalah pertumbuhan otak dan organ lain pada anak akan terganggu, sehingga anak lebih rentan kena diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung.
Dilansir dari laman P2PTM Kemenkes RI, ciri utama stunting adalah tinggi badan anak yang lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Meskipun demikian, kondisi tubuh anak yang pendek ini seringkali disalah artikan oleh para orang tua sebagai faktor keturunan (genetik).
Oleh karena itu, masyarakat banyak menganggap perkara ini remeh dan tidak ada pencegahan maupun penanganan lebih lanjut. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting seperti:
- Periksa kehamilan secara teratur;
- Menghindari asap rokok dan penuhi nutrisi (zat besi, folat, yodium) selama masa kehamilan;
- Beri ASI eksklusif sampai anak berusia 6 bulan;
- Cek tumbuh kembang anak secara rutin, terutama di 6 tahun pertama;
- Teratur ikut program imunisasi.



